Jumat, 20 Maret 2015

KISAH NABI YAQUB

Nama: Ya'qub (Yakub/Israel) bin Ishaq (Ishak),
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as Ishaq as Ya'qub as
Usia: 147 tahun
Periode sejarah: 1837 - 1690 SM
Tempat diutus (lokasi): Syam (Syria/Siria)
Jumlah keturunannya (anak): 12 anak
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 18 kali


Pengutusan Nabi Yakub

Ya'qub hijrah dari negeri Kan'an menuju Faddan Aram atau Padan-Aram (Harran), sebelah utara Irak, ketempat paman dari jalur ibunya, Laban.

Ya'qub tinggal di Harran cukup lama. Beliau lantas menikahi sepupunya, Putri Laban. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya (di Kan'an atau Kana'an) setelah Allah menganugerahinya sepuluh putra dari sepupunya dan istrinya yang lain.

Setelah Ya'qub kembali ke negeri Kan'an (Yabus). Allah menganugerahinya lagi dua putra, Yaitu Yusuf dan Bunyamin. Dengan demikian, jumlah putranya menjadi dua belas orang. Di tempat itulah dia menyempurnakan risalah ayahnya, Ishaq, dan kakeknya, Ibrahim, untuk menyeru pada ajaran Allah.

Ketika Allah menganugerahi Yusuf gelar kenabian dan jabatan Menteri Keuangan pada masa Hesos, Ya'qub dan anak-anaknya berangkat menemui Yusuf di Mesir. Sementara itu, Yusuf telah memaafkan perbuatan saudara-saudaranya dahulu, seperti yang disebutkan dalam surah Yusuf. Dengan demikian, bangsa Israil memasuki Mesir dan menetap disana untuk beberapa waktu. Pada sat itulah nabi Ya'qub wafat, dan tubuhnya sempat dipertahankan, kemudian dipindahkan ke Palestina dan dimakamkan disana, sesuai dengan permintaannya. Beliau dimakamkan di Gua al-Makfilah, di kota Hebron (al-Khalil).
Wasiat Nabi Ya'qub Kepada Anaknya yang Termaktub dalam Al-Qur'an

"Apakah kalian menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya'qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang kalian sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Rabbmu dan Rabb nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya," (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Kota Hebron (al-Khalil)

Bangsa Kan'an (Kana'an) menyebut kota al-Khalil dengan nama Arba'. Nama ini dinisbahkan kepada raja mereka yang berbangsa Arab Kan'an yang kembali kepada kabilah 'Inaq. Nama tersebut selanjutnya dikenal dengan nama Gedron atau Gabrion.

Ketika lokasi kota tersebut bersambung dengan rumah Ibrahim yang berada di kaki Gunung ar-Ra's, kota baru itu pun dinamakan dengan al-Khalil. Nama yang dinisbahkan kepada Khalilur-Rahman (kekasih Allah Yang Maha Pengasih), Ibrahim.

Ketika Sarah wafat, Nabi Ibrahim memakamkannya di Gua Makfilah (Makhpela) di kota al-Khalil (Hebron). Gua ini menjadi tempat pemakaman Ibrahim dan istrinya, Sarah; Ishaq dan Istrinya; Rifqah; Ya'qub, dan Yusuf. Pada periode Nabi Isa, di sekitar pemakaman tersebut dibangun tembok yang mengelilinginya dan kawasan itu dinamakan Kampung Keluarga Ibrahim al-Khalil.

Kisah Nabi Ya'qub

Nabi Ya'qub adalah putera dari Nabi Ishaq bin Ibrahim sedang ibunya adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim, bernama Rifqah binti A'zar. Ishaq mempunyai anak kembar, satu Ya'qub dan satu lagi bernama Ishu. Antara kedua saudara kembar ini tidak terdapat suasana rukun dan damai serta tidak ada menaruh kasih-sayang satu terhadap yang lain bahkan Ishu mendendam terhadap Ya'qub saudara kembarnya yang memang dimanjakan dan lebih disayangi serta dicintai oleh ibunya. Hubungan mereka yang renggang dan tidak akrab itu makin buruk dan tegang setelah diketahui oleh Ishu bahwa Ya'qublah yang diajukan oleh ibunya ketika ayahnya minta kedatangan anak-anaknya untuk diberkahi dan didoakan, sedangkan dia tidak diberitahu dan karenanya tidak mendapat kesempatan seperti Ya'qub memperoleh berkah dan doa ayahnya, Nabi Ishaq.

Melihat sikap saudaranya yang bersikap kaku dan dingin dan mendengar kata-kata sindirannya yang timbul dari rasa dengki, bahkan ia selalu diancam. Maka, datanglah Ya'qub kepada ayahnya mengadukan sikap permusuhan itu. Ya'qub berkata mengeluh : "Wahai ayahku! Tolonglah berikan pikiran kepadaku, bagaimana harus aku menghadapi saudaraku Ishu yang membenciku mendendam dengki kepadaku dan selalu menyindirku dengan kata-kata yang menyakitkan hatiku, sehingga hubungan persaudaraan kami berdua renggang dan tegang, tidak ada saling cinta mencintai dan saling sayang-menyayangi. Dia marah karena ayah memberkati dan mendoakan aku agar aku memperolehi keturunan soleh, rezeki yang mudah dan kehidupan yang makmur serta kemewahan . Dia menyombongkan diri dengan kedua orang isterinya dari suku Kana'an dan mengancam bahwa anak-anaknya dari kedua isteri itu akan menjadi saingan berat bagi anak-anakku kelak dalam pencarian dan penghidupan dan macam-macam ancaman lain yang menyesakkan hatiku. Tolonglah ayah berikan aku pikiran bagaimana aku dapat mengatasi masalah ini serta mengatasinya dengan cara kekeluargaan.

Berkata Nabi Ishaq yang memang sudah merasa kesal hati melihat hubungan kedua puteranya yang makin hari makin meruncing: "Wahai anakku, karena umurku yang sudah lanjut aku tidak dapat menengahi kamu berdua. Ubanku sudah menutupi seluruh kepalaku, raut mukaku sudah berkerut dan aku sudah berada di ambang pintu perpisahan dari kamu dan meninggalkan dunia yang fana ini. Aku khawatir bila aku sudah menutup usia, gangguan saudaramu Ishu kepadamu akan makin meningkat dan ia secara terbuka akan memusuhimu, berusaha mencari kecelakaan mu dan kebinasaanmu. Ia dalam usahanya memusuhimu akan mendapat sokongan dan pertolongan dan saudara-saudara iparnya yang berpengaruh dan berwibawa di negeri ini. Maka jalan yang terbaik bagimu, menurut pikiranku, engkau harus pergi meninggalkan negeri ini dan berhijrah ke Fadan A'raam di daerah Irak, di mana bapak saudaramu yaitu saudara ibumu, Laban bin Batu'il. Engkau dapat dikawinkan kepada salah seorang puterinya. Oleh yang demikian, menjadi kuatlah kedudukan sosialmu, agar disegani dan dihormati orang karena kedudukan mertuamu yang menonjol di mata masyarkat. Pergilah engkau ke sana dengan iringan doa dariku. Semoga Allah memberkati perjalananmu, memberi rezeki murah dan mudah serta kehidupan yang tenang dan tenteram.

Nasihat dan anjuran si ayah mendapat tempat dalam hati Ya'qub. Melihat dalam anjuran ayahnya jalan keluar yang dikehendaki dari krisis hubungan persaudaraan antaranya dan Ishu, dengan mengikuti saran itu, dia akan dapat bertemu dengan bapak saudaranya dan anggota-anggota keluarganya dari pihak ibunya. Ya'qub segera berkemas-kemas dan membungkus barang-barang yang diperlukan dalam perjalanan dan dengan hati yang sedih dia meminta restu kepada ayahnya dan ibunya ketika akan meninggalkan rumah.

Nabi Ya'qub Tiba di Iraq

Dengan melalui jalan pasir dan Sahara yang luas dengan panas mataharinya yang terik dan angin samumnya {panas} yang membakar kulit, Ya'qub meneruskan perjalanan seorang diri, menuju ke Fadan A'ram dimana bapak saudaranya Laban tinggal. Dalam perjalanan yang jauh itu, ia sesekali berhenti beristirahat bila merasa letih. Dan dalam salah satu tempat perhentiannya, lalu tertidurlah Ya'qub di bawah sebuah batu karang yang besar. Dalam tidurnya yang nyenyak, ia mendapat mimpi bahwa ia dikurniakan rezeki yang luas, penghidupan yang aman damai, keluarga dan anak cucu yang soleh dan bakti serta kerajaan yang besar dan makmur. Terbangunlah Ya'qub dari tidurnya, mengusapkan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri dan sadarlah ia bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi namun ia percaya bahwa mimpinya itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari sesuai dengan doa ayahnya yang masih tetap mendengung di telinganya.

Akhirnya, Ya'qub sampai di kota Fadan A'ram. Sesampainya di salah satu persimpangan jalan, dia berhenti sebentar bertanya ke salah seorang penduduk di mana letaknya rumah saudara ibunya Laban barada. Laban seorang kaya-raya, pemilik dari suatu perusahaan perternakan yang terbesar di kota itu tidak sukar bagi seseorang untuk menemukan alamatnya. Penduduk yang ditanyanya itu segera menunjuk ke arah seorang gadis cantik yang sedang menggembala kambing seraya berkata kepada Ya'qub: "Kebetulan sekali, itulah dia anak perempuan Laban, Rahil, yang akan dapat membawa kamu ke rumah ayahnya".

Dengan hati yang berdebar, pergilah Ya'qub menghampiri seorang gadis ayu dan cantik itu, lalu dengan suara yang terputus-putus seakan-akan ada sesuatu yang mengikat lidahnya, Ya'qub mengenalkan diri, bahwa ia adalah saudara sepupunya sendiri. Rifqah ibunya, saudara kandung dari ayah si gadis itu, Laban. Diterangkan lagi kepada Rahil, tujuannya datang ke Fadam A'raam dari Kan'aan. Mendengar kata-kata Ya'qub yang bertujuan hendak menemui ayahnya, Laban, dan untuk menyampaikan pesana Ishaq. Maka, dengan senang hati, Rahil (anak gadis Laban) mempersilakan Ya'qub mengikutinya balik ke rumah untuk menemui ayahnya, Laban.

Setelah berjumpa, Laban bin Batu'il, menyediakan tempat dan bilik khas untuk anak saudaranya itu, Ya'qub, yang tiada bedanya dengan tempat-tempat anak kandungnya sendiri, dengan senang hati Ya'qub tinggal di rumah Laban seperti rumah sendiri.

Ya'qub tinggal di Harran cukup lama. Beliau lantas menikahi sepupunya, Putri Laban. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya (di Kan'an atau Kana'an) setelah Allah menganugerahinya sepuluh putra dari sepupunya dan istrinya yang lain.

Setelah Ya'qub kembali ke negeri Kan'an (Yabus). Allah menganugerahinya lagi dua putra, Yaitu Yusuf dan Bunyamin. Dengan demikian, jumlah putranya menjadi dua belas orang. Di tempat itulah dia menyempurnakan risalah ayahnya, Ishaq, dan kakeknya, Ibrahim, untuk menyeru pada ajaran Allah.

Ketika Allah menganugerahi Yusuf gelar kenabian dan jabatan Menteri Keuangan pada masa Hesos, Ya'qub dan anak-anaknya berangkat menemui Yusuf di Mesir. Sementara itu, Yusuf telah memaafkan perbuatan saudara-saudaranya dahulu, seperti yang disebutkan dalam surah Yusuf. Dengan demikian, bangsa Israil memasuki Mesir dan menetap disana untuk beberapa waktu. Pada sat itulah nabi Ya'qub wafat, dan tubuhnya sempat dipertahankan, kemudian dipindahkan ke Palestina dan dimakamkan disana, sesuai dengan permintaannya. Beliau dimakamkan di Gua al-Makfilah, di kota Hebron (al-Khalil).
Kisah Nabi Ya'qub di Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Ya'qub dalam Al-Quran pada umumnya terintegrasi dengan kisah Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf serta lainnya.

Di dalam Al-Quran, nama Ya'qub as, disebutkan sebanyak 18 kali, yaitu QS. [2:132, 2:133, 2:136, 2:140, 3:84, 4:163, 6:84, 11:71, 12:6, 12:38, 12:66, 12:67, 12:68, 19:6, 19:49, 21:72, 29:27, 38:45]

KISAH NABI ISHAQ A.S

Nama: Ishaq (Ishak) bin Ibrahim
Garis Keturunan: Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim asIshaq as
Usia: 180 tahun
Periode sejarah: 1897 - 1717 SM
Tempat diutus (lokasi): Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan'an (Kana'an)
Jumlah keturunannya (anak): 2 anak
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 17 kali


Ishaq (Standar Yiz.h.aq, Tiberian Yis.h.a-q) adalah putra kedua Nabi Ibrahim setelah Ismail. Ibunya bernama Sarah yang juga merupakan orang tua dari Nabi Yaqub. Nabi Ishaq diutus untuk masyarakat Kana'an, khususnya di kota Hebron (al-Khalil), karena kaumnya tidak mengenal Allah. Kisah Nabi Ishaq sangat sedikit diceritakan dalam Al-Qur'an. Nabi Ishaq disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 17 kali.

Nama Ishaq berasal dari bahasa Yahudi Yis.h.a-q yang berarti tertawa/tersenyum. Kata itu didapatkan dari ibunya, Sarah yang tersenyum tidak percaya ketika mendapatkan kabar gembira dari malaikat Jibril.

Sebelum kelahiran Ishaq, Sarah dan suaminya, Ibrahim, mendapat kabar gembira dari Allah melalui malaikat Jibril. Dalam pesan itu malaikat Jibril menyampaikan bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishaq yang kelak akan menjadi seorang nabi. Namun, Sarah tersenyum karena merasa heran dan aneh. Dia merasa aneh karena tidak mungkin dia dan suaminya dapat memberi keturunan jika usia mereka sudah cukup tua, yaitu Sarah berusia 90 tahun dan Nabi Ibrahim 120 tahun. Ishaq pun akhirnya terlahir di kota Hebron di daerah Kana'an pada tahun 1897 SM.

Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim dan Sarah setelah Ismail. Bersama Ismail, ia mejadi penerus ayahnya untuk berdakwah di jalan Allah. Ketika Ibrahim telah sangat tua, Ishaq belum juga menikah. Ibrahim tidak mengizinkan Ishaq menikah dengan wanita Kana'an karena masyarakatnya tidak mengenal Allah dan asing terhadap keluarganya. Karena itu, Ibrahim memerintah seorang pelayan untuk pergi ke Harran, Irak dan membawa seorang perempuan dari keluarganya. Perempuan yang dimaksud itu adalah Rafqah binti Batuwael bin Nahur, saudara Ibrahim yang kemudian dinikahkan dengan Ishaq.

Setelah 10 tahun Ishaq menikah dengan Rafqah, lahirlah dua anak kembar. Anak pertama diberi nama Al-Aish dan anak kedua Yaqub yang lahir dengan memegang kaki saudaranya. Dari Ishaq-lah kemudian terlahir nabi-nabi Bani Israil.

Ishaq meninggal pada tahun 1717 SM, pada usia 180 tahun.

Sabtu, 14 Maret 2015

Download software Hadits Digital Bahasa Indonesia offline Gratis

Download software Hadits Digital Bahasa Indonesia Gratis



Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah, dengan memohon karunia dan ridho Ilahi, saya hendak menyampaikan informasi bahwa telah disusun HaditsWeb 5.0 (versi terbaru), dimana pada versi ini text Qur’an sudah menggunakan teks Qur’an yang lebih baik tampilannya, baik dari segi rendering maupun dari tanda bacanya, dan penggunaan tanda baca untuk panjang pendeknya ayat sudah disertakan pula. Jenis font sudah menggunakan openquran, dan tidak lagi menggunakan jenis font Traditional Arabic. Insya Allah lebih mudah untuk dibaca. Bagi yang sudah menggunakan HaditsWeb versi sebelumnya, dimohon untuk menghapusnya, dan install ulang menggunakan HaditsWeb versi terbaru ini.



Peringatan Penting! Amanah dari saya, HARAP DIBACA DAHULU PERJANJIAN DI BAWAH INI:
Sebelum Anda menginstall atau menggunakan program ini, maka silahkan di lakukan setelah Anda menafkahkan sebagian rezeki yang dititipkan Allah kepada Anda, yakni dengan cara memberikan sebagian harta Anda kepada para fakir miskin, anak yatim, orang yang dalam perjalanan yang kekurangan bekal, orang yang berhutang yang kesulitan dalam membayar, dan orang yang sakit yang kekurangan biaya untuk pengobatan, sesuai dengan kemampuan Anda, dengan ikhlas dan tidak berlebih-lebihan dalam menafkahkan hartanya. Apa saja yang Anda nafkahkan, maka sesungguhnya kebaikannya akan kembali kepada diri Anda sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam, dan rahmat-Nya meliputi langit dan bumi.

Jika Anda telah melaksanakan amanah diatas, maka itulah yang saya harapkan, dan merupakan kegembiraan di hati saya telah menghadirkan program ini kepada Anda.

Terima Kasih.


Untuk download HaditsWeb 5.0 versi CHM, silahkan download pada salah satu link sbb:

1. DataFileHost
2. Enterupload
3. Sendspace
4. 4shared
5. Mediafire

Untuk download HaditsWeb 5.0 versi HTML, silahkan download pada salah satu link sbb:

1.Datafilehost
2.Enterupload
3.Sendspace
4.4shared
5.Mediafire


Khusus versi HTML ini dapat dijalankan di Microsoft Windows, Linux, Apple Mac, HP (Hand Phone), SmartPhone, BlackBerry, iPhone, iPad, PC Tablet, dan PC Pocket lainnya.
Petunjuk Penggunaan khusus untuk HaditsWeb versi HTML:
1. Buatlah folder baru dengan nama HaditsWeb di dalam memori card atau harddisk di Microsoft Windows, Linux, Apple Mac, HP (Hand Phone), SmartPhone, BlackBerry, iPhone, iPad, PC Tablet, atau PC Pocket Anda. Untuk HP, Anda akan memerlukan bantuan PC. Silahkan gunakan card reader, blue tooth, ataupun kabel konektor HP ke PC, untuk mengakes memori card di HP Anda. Ket: Nama folder tidak harus HaditsWeb, boleh menggunakan nama yang lain.
2. Extract (pindahkah atau keluarkan) seluruh file di dalam file zip yang sudah Anda download tsb ke folder baru tersebut.
3. Untuk HP, pastikan Anda menyimpannya disuatu folder yang bisa diakses oleh aplikasi Web Browser di HP Anda. Untuk pengetesan, silahkan buka File Manager / File Explorer di HP Anda, kemudian cobalah buka file index.htm yang terdapat di folder (root utama) HaditsWeb tersebut. File index.htm ini adalah halaman utama atau menu utama HaditsWeb.
4. Bilamana file index.htm dapat terbuka dengan sempurna, maka buatlah suatu shortcut atau bookmark untuk file index.htm tersebut, sehingga memudahkan Anda untuk mengakses HaditsWeb ini secara offline.


Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengguna HaditsWeb selama ini, semoga berkenan, bermanfaat dan barokah untuk kita semua, terima kasih.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dibalik Pemberian Nama “Al-Qur’an” Sebagai Kitab Suci Umat Islam

Mengapa kitab suci umat Islam ini dinamai Al-Qur’an? Apa sesungguhnya makna dan filosofi di balik nama tersebut? Penamaan Al-Qur’an yang diberikan Allah pada kitab suci ini bukanlah tanpa makna dan alasan.

Penamaan demikian sesungguhnya ingin memberikan pesan penting kepada umat Islam bagaimana mereka semestinya melihat, mempersepsi dan berinteraksi dengan kitab suci ini. Memahami filosofi penamaan kitab suci ini, dengan kata lain, akan memberikan efek kesadaran bagaimana seharusnya kitab suci ini diperlakukan, dan bukan sekadar diyakini dalam hati dan dinyatakan secara verbal.
Mengenai asal-usul kata Al-Qur’an, para ulama bahasa memiliki pandangan yang tidak sama; sebagian mengatakan bahwa Al-Qur’an berasal dari kata qara’a, sedangkan yang lain mengatakan berasal dari kata qarina.

Menurut Manna Khalil Qattan, seorang pakar ulmul Qur’an, asal kata Al-Qur’an adalah qara’a yang berarti ‘menghimpun’ dan ‘menyatukan’. Qira’ah, yang merupakan derivasinya dimaknai dengan ‘menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lain dengan susunan yang rapi’ (Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, 1995: 20) Ayat yang digunakan Al-Qattan untuk menjelaskan keterangannya adalah Al-Qur’an Surah al-Qiyamah/75: 17-18.

Pendapat senada juga dikemukakan Imam ar-Ragib al-Asfahani, seorang pakar ilmu bahasa. Menurutnya, Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang dalam hal ini berarti ‘mengumpulkan’, ‘menghimpun’, dan ‘membaca’. Makna ‘membaca’ memiliki rangkaian makna dengan makna mengumpulkan dan menghimpun, karena membaca adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara menghimpun dan mengumpulkan huruf-huruf sehingga membentuk rangkaian lafaz dan kalimat yang bisa dibaca dan dimengerti.

Sedangkan huruf alif dan nun pada kata Al-Qur’an mengandung arti ‘kesempurnaan’ sehingga Al-Qur’an berarti ‘bacaan yang sempurna’. Az-Zajjaj juga memiliki pendapat yang sama. Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang sinonim dengan al-jam’u yang berarti ‘mengumpulkan’.

Al-Qur’an dinamakan demikian karena ia adalah kitab yang menghimpun intisari yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu dan menghimpun intisari dari berbagai macam ilmu pengetahuan. (Muchlis M. Hanafi (ed), Ensiklopedia Al-Qur’an pada entri kata Qur’an, juz 3, h. 784)
Keterangan di atas memberikan kita sejumlah pengertian tentang kitab suci Al-Qur’an. 

Pertama, Al-Qur’an adalah kitab kumpulan, intisari dari kitab-kitab suci yang diturunkan Allah sebelumnya, seperti Zabur, Taurat, Injil, dan termasuk suhuf-suhuf (lembaran) suci yang berisi wahyu yang diturunkan kepada sejumlah nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad.

Kedua, Al-Qur’an merupakan bacaan yang sempurna dan paripurna. Dari sini dapat dipahami mengapa Al-Qur’an tidak memiliki cacat, baik dari segi periwayatan maupun dari segi isi dan substansi. Dari segi periwayatan para ulama bersepakat bahwa Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir yang tidak mungkin membuka peluang adanya kekeliruan dan missing link sebagaimana dikemukakan sejumlah orientaslis. Sifat periwayatan Al-Qur’an ini berbeda dengan hadis, yang membuka peluang adanya kesalahan dan kekeliruan, baik dari segi lafaz maupun maknanya.

Dari sini bisa dipastikan, Al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna dan terjaga keasliannya dari sejak diturunkan pertama kali, hingga saat ini. Terkait dengan keaslian Al-Qur’an, Allah Swt dalam Surah al-Hijr/15: 9 bahkan berjanji, akan menjaganya. Dari sini bisa dipastikan, bahwa Al-Qur’an yang kita baca saat ini adalah Al-Qur’an yang juga dibaca Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya pada kurun empat belas abad yang lalu.
Demikian halnya dari segi isi dan substansi. Pada sisi ini tampak bahwa pembahasan Al-Qur’an meliputi berbagai hal yang menjadi kebutuhan manusia, terutama dalam rangka mencari petunjuk Allah SWT.

Dalam Surah al-An’am/6: 38 Allah menjelaskan, “… Tidak ada satu pun yang kami luputkan dalam al-Kitab.” Artinya, pada sisi ini Al-Qur’an dapat dikatakan sebagai kitab yang mencakup berbagai hal yang menjadi kebutuhan manusia sepanjang masa, bahkan hal-hal yang belum terpikirkan oleh manusia yang besifat futuristik.
Ia adalah kitab yang sempurna dan memiliki peran melakukan penyempurnaan kitab-kitab ilahiah sebelumnya. Inilah sebagian pengertian yang bisa dipetik dari penamaan Al-Qur’an melalui tinjauan bahasa.

Perpustakaan Hadits Digital (9 Kitab Imam Hadits)

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu !!
Ilmu Hadits merupakan makanan pokok bagi Umat Muslim, kalau kita orang Indonesia makannya terdiri dari nasi dan Lauk, maka Hadits laksana lauknya sedangkan Al-Quran adalah nasinya ......
bagaimana tidak ? kita semua tahu bahwa sumber ajaran islam, dan semua keilmuan bagi ilmu agama maupun ilmu lainnya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Namun berbeda dengan Al-Quran, yang sudah pasti dan terjamin kevalidan dan keshahihannya, ada beberapa hadits yang masuk kategori Dha'if, atau mungkin palsu, oleh karena itu, umat Islam perlu mempunyai referensi hadits yang valid dan terpercaya....

Nah, siapa yang tidak tahu Sembilan Imam Hadits dan kitab-kitab beliau, yang sudah terpercaya sebagai kitab-kitab referensi hadits paling valid. sembilan kitab tersebut terdiri dari dua kitab Shahih, lima kitab Sunan, dan 1 kitab Musnad :
1. Shahih Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan Ad-Dayramiy
5. Sunan An-Nasa-i
6. Sunan At-Turmudzy
7. Sunan Ibnu Majah
8. Al-Muwattha' Imam Malik
9. Musnad Imam Ahmad
ke sembilan Imam dan kitabnya di atas merupakan sumber referensi hadits terpercaya yang dianggap sebagai sembilan kitab paling agung dalam islam setelah Al-Quran. nah, sejalan dengan perkembangan teknologi, dan kita juga tahu bahwa Islam sangat fleksibel dan beriringan dengan kemajuan teknologi, Perpustakaan digital ini dibuat untuk mempermudah dan membantu kaum Muslim dalam mempelajari Hadits-Hadits valid dari sembilan kitab hadits tervalid.
Perpustakaan digital ini merangkap isi dari sembilan kitab Hadits tersebut, seperti yang terlihat di screen shoot berikut :
- See more at: http://elafqar.blogspot.com/2013/12/aplikasi-hadits-digital-9-kitab-imam.html#sthash.4tFoYXuZ.dpuf

Perpustakaan Hadits Digital (9 Kitab Imam Hadits)

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu !!
Ilmu Hadits merupakan makanan pokok bagi Umat Muslim, kalau kita orang Indonesia makannya terdiri dari nasi dan Lauk, maka Hadits laksana lauknya sedangkan Al-Quran adalah nasinya ......
bagaimana tidak ? kita semua tahu bahwa sumber ajaran islam, dan semua keilmuan bagi ilmu agama maupun ilmu lainnya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Namun berbeda dengan Al-Quran, yang sudah pasti dan terjamin kevalidan dan keshahihannya, ada beberapa hadits yang masuk kategori Dha'if, atau mungkin palsu, oleh karena itu, umat Islam perlu mempunyai referensi hadits yang valid dan terpercaya....

Nah, siapa yang tidak tahu Sembilan Imam Hadits dan kitab-kitab beliau, yang sudah terpercaya sebagai kitab-kitab referensi hadits paling valid. sembilan kitab tersebut terdiri dari dua kitab Shahih, lima kitab Sunan, dan 1 kitab Musnad :
1. Shahih Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan Ad-Dayramiy
5. Sunan An-Nasa-i
6. Sunan At-Turmudzy
7. Sunan Ibnu Majah
8. Al-Muwattha' Imam Malik
9. Musnad Imam Ahmad
ke sembilan Imam dan kitabnya di atas merupakan sumber referensi hadits terpercaya yang dianggap sebagai sembilan kitab paling agung dalam islam setelah Al-Quran. nah, sejalan dengan perkembangan teknologi, dan kita juga tahu bahwa Islam sangat fleksibel dan beriringan dengan kemajuan teknologi, Perpustakaan digital ini dibuat untuk mempermudah dan membantu kaum Muslim dalam mempelajari Hadits-Hadits valid dari sembilan kitab hadits tervalid.
Perpustakaan digital ini merangkap isi dari sembilan kitab Hadits tersebut, seperti yang terlihat di screen shoot berikut :
- See more at: http://elafqar.blogspot.com/2013/12/aplikasi-hadits-digital-9-kitab-imam.html#sthash.4tFoYXuZ.dpuf

Perpustakaan Hadits Digital (9 Kitab Imam Hadits)

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu !!
Ilmu Hadits merupakan makanan pokok bagi Umat Muslim, kalau kita orang Indonesia makannya terdiri dari nasi dan Lauk, maka Hadits laksana lauknya sedangkan Al-Quran adalah nasinya ......
bagaimana tidak ? kita semua tahu bahwa sumber ajaran islam, dan semua keilmuan bagi ilmu agama maupun ilmu lainnya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Namun berbeda dengan Al-Quran, yang sudah pasti dan terjamin kevalidan dan keshahihannya, ada beberapa hadits yang masuk kategori Dha'if, atau mungkin palsu, oleh karena itu, umat Islam perlu mempunyai referensi hadits yang valid dan terpercaya....

Nah, siapa yang tidak tahu Sembilan Imam Hadits dan kitab-kitab beliau, yang sudah terpercaya sebagai kitab-kitab referensi hadits paling valid. sembilan kitab tersebut terdiri dari dua kitab Shahih, lima kitab Sunan, dan 1 kitab Musnad :
1. Shahih Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan Ad-Dayramiy
5. Sunan An-Nasa-i
6. Sunan At-Turmudzy
7. Sunan Ibnu Majah
8. Al-Muwattha' Imam Malik
9. Musnad Imam Ahmad
ke sembilan Imam dan kitabnya di atas merupakan sumber referensi hadits terpercaya yang dianggap sebagai sembilan kitab paling agung dalam islam setelah Al-Quran. nah, sejalan dengan perkembangan teknologi, dan kita juga tahu bahwa Islam sangat fleksibel dan beriringan dengan kemajuan teknologi, Perpustakaan digital ini dibuat untuk mempermudah dan membantu kaum Muslim dalam mempelajari Hadits-Hadits valid dari sembilan kitab hadits tervalid.
Perpustakaan digital ini merangkap isi dari sembilan kitab Hadits tersebut, seperti yang terlihat di screen shoot berikut :
- See more at: http://elafqar.blogspot.com/2013/12/aplikasi-hadits-digital-9-kitab-imam.html#sthash.4tFoYXuZ.dpuf

Perpustakaan Hadits Digital (9 Kitab Imam Hadits)

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu !!
Ilmu Hadits merupakan makanan pokok bagi Umat Muslim, kalau kita orang Indonesia makannya terdiri dari nasi dan Lauk, maka Hadits laksana lauknya sedangkan Al-Quran adalah nasinya ......
bagaimana tidak ? kita semua tahu bahwa sumber ajaran islam, dan semua keilmuan bagi ilmu agama maupun ilmu lainnya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Namun berbeda dengan Al-Quran, yang sudah pasti dan terjamin kevalidan dan keshahihannya, ada beberapa hadits yang masuk kategori Dha'if, atau mungkin palsu, oleh karena itu, umat Islam perlu mempunyai referensi hadits yang valid dan terpercaya....

Nah, siapa yang tidak tahu Sembilan Imam Hadits dan kitab-kitab beliau, yang sudah terpercaya sebagai kitab-kitab referensi hadits paling valid. sembilan kitab tersebut terdiri dari dua kitab Shahih, lima kitab Sunan, dan 1 kitab Musnad :
1. Shahih Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan Ad-Dayramiy
5. Sunan An-Nasa-i
6. Sunan At-Turmudzy
7. Sunan Ibnu Majah
8. Al-Muwattha' Imam Malik
9. Musnad Imam Ahmad
ke sembilan Imam dan kitabnya di atas merupakan sumber referensi hadits terpercaya yang dianggap sebagai sembilan kitab paling agung dalam islam setelah Al-Quran. nah, sejalan dengan perkembangan teknologi, dan kita juga tahu bahwa Islam sangat fleksibel dan beriringan dengan kemajuan teknologi, Perpustakaan digital ini dibuat untuk mempermudah dan membantu kaum Muslim dalam mempelajari Hadits-Hadits valid dari sembilan kitab hadits tervalid.
Perpustakaan digital ini merangkap isi dari sembilan kitab Hadits tersebut, seperti yang terlihat di screen shoot berikut :
- See more at: http://elafqar.blogspot.com/2013/12/aplikasi-hadits-digital-9-kitab-imam.html#sthash.4tFoYXuZ.dpuf

CARA MEMBUAT E-MAIL @muslim.com

Assalamualaikum wr.wb
Apa anda tahu bahwa email bukan hanya gmail.com ,yahoo.com ataupun semacamnya , akan tetapi kita bisa membuat email baru seperti @islam.com ,caranya begini :

1. buka mail.com
2. klik sign up
3. pada form email address anda pilih @muslim.com
3. anda tinggal mengisi formulir itu dan klik I ACCEPT
4. dan email anda telah dibuat
5. selesai . mudah bukan

NB: anda juga bisa membuat @mail.com dan sebagainya

terimakasih jangan lupa komen dan wassalamualaikum wr.wb

KISAH NABI ISMAIL A.S

Nama: Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as 
Ismail as

Usia: 137 tahun
Periode sejarah: 1911 - 1774 SM
Tempat diutus (lokasi): Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat: Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya: Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali


Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka yang masih menyusu, Ismail, berjalan ke suatu tempat yang diperintahkan Allah. Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang tandus. Hal itu dilakukan setelah beliau menunaikan kewajiban dan mensyukuri semua nikmat Allah. Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) di Palestina dengan meninggalkan Hajar dan anaknya di lembah tersebut. Dengan bertawakal, berharap Allah melindungi anak dan istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang tertuang dalam firman Allah, "Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur," (QS. Ibrahim [14]: 37).

Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya berada hingga mereka sangat kehausan. Hajar segera mencari air dari sumber yang ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saat dia kembali menemui Ismail, dia melihat percikan air dari bawah tungkai kaki anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara Jibril.

Abu Syuhbah berkata dalam bukunya, "Jibril turun menyerupai seekor burung. Dia lalu mengepakkan sayapnya ke bumi, ada juga yang berpendapat dengan tungkainya, maka keluarlah air Zamzam. Karena sangat senangnya, Hajar lalu mengumpulkan tanah untuk membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami zami ('Berkumpullah, berkumpullah').' Dia dan bayinya pun lantas minum hingga dahaga mereka hilang dan tidak merasakan haus lagi setelah itu. Pada saat demikian, Hajar mendengar suara yang berkata, 'Janganlah kamu takut terlantar. Sebab, di sini akan ada Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya.'"

Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Jurhum yang merantau dari Yaman. Mereka tinggal di dekat tempat yang kemudian menjadi kota Mekah dan minta izin kepada Hajar agar diperbolehkan tinggal di sana. Hajar senang dan tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang itu. Mereka bermukim di sana dan membangun tempat tinggal. Ketika Ismail beranjak dewasa, dia mampu berbahasa Arab sehingga menjadi leluhur orang-orang Arab Musta'rabah (pendatang). Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Syuhbah di dalam kitabnya.

Al-Azraqi berkata dalam Tarikh Makkah, "Setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka'bah dulu telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau oleh aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada tempat yang amat bernilai, tanpa mengetahui pasti lokasinya. Dari seluruh penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan. Manusia pun selalu mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka'bah kembali. Sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi ke generasi lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi."

Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi keluarganya. Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Ismail pun memenuhi perintah itu, Namun, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan yang besar seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! ' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. 'Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah), lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau membenarkan mimpi itu. 'Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Selamat sejahtera bagi Ibrahim. 'Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," (QS. As-Shaffat [37]: 102-111).

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat itu, Ibrahim melihat Ismail tengah meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan. Nabi Ibrahim berkata, "Allah memerintahlan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam urusan agung ini."

Nabi Ibrahim pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan Ismail menyodorkan batu untuknya. Ibrahim berkata pada Ismail, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan meletakkannya di salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia."Jibril lalu memberi tahu Ismail tentang Hajar Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari surga. Ismail pun menyodorkannya dan Ibrahim meletakan pada tempatnya. Selama membangun, mereka berdua senantias berdoa, "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,"(QS. Al-Baqarah [2]: 127).

Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim tidak mampu lagi mengangkat bebatuan. Dia lantas berdiri di atas sebuah batu, yang kemudian disebut maqam Ibrahim, hingga sempurnanya pembangunan Baitullah. Allah kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat manusia agar melaksanakan ibadah haji. Allah berfirman, "Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj [22]: 27-29).

KISAH NABI LUTH A.S

Nama: Luth bin Haran
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Haran ⇒ Luth as
Usia: 80 tahun
Periode sejarah: 1950 - 1870 SM
Tempat diutus (lokasi): Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth)
Jumlah keturunannya (anak): 2 putri (Ratsiya dan Za'rita)
Tempat wafat: Desa Shafrah di Syam (Syria)
Sebutan kaumnya: Kaum Luth
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 27 kali


Nabi Luth adalah rasul yang tidak termasuk kelompok Ulul Azmi. Beliau diutus Allah pada masa kerasulan pamannya, Nabi Ibrahim. Hal ini sebagaimana terekam dalam firman-Nya, "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana," (QS. Al-'Ankabut [29]: 26).

Semula dia menetap bersama pamannya di kota al-Khalil (Hebron). Kemudian, Luth berhijrah ke kota Sodom yang sekarang terletak di wilayah lembah Jordania. Penduduk daerah tersebut biasa berbuat keji dan hina; menyalahi fitrah manusia yang sehat. Mereka biasa melakukan homoseksual. Dalam hal ini, Allah berfirman, "(Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kalian melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian (di dunia ini)?' Sungguh, kalian telah melampiaskan syahwat kalian kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kalian benar-benar kaum yang melampaui batas. 'Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negeri kalian ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci,"(QS. Al-A'raf [7]: 80-82).

Nabi Luth pun mulai berdakwah agar kaumnya menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya, seta meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Namun, di saat beliau berulang kali mengingatkan mereka tentang akibat perbuatan itu, mereka menjawab, "Wahai Luth, jika kami tidak berhenti dari ajakanmu, kamu benar-benar akan diusir dari sini. "Mereka semakin gusar dengan dakwah Nabi Luth dan akhirnya memutuskan mengusir beliau, seperti yang diabadikan dalam al-Qur'an, "Mereka menjawab, 'Wahai Luth, jika engkau tidak berhenti, engkau termasuk orang-orang yang terusir," (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 167).

Sebagaimana yang mereka ancamkan, mereka pun mengusir Luth setelah mengobarkan kemarahan atas dakwah Luth. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negeri kalian ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci," (QS. Al-A'raf [7]: 82).

Tatkala Allah menghancurkan mereka yang berbuat keji dan hina itu, Dia mengutus para malaikat untuk menghancurkan dan membalikkan kediaman mereka. Kaum Luth memiliki lima desa dan berpenduduk 400.000 jiwa. Di dalam perjalanan, para malaikat berjumpa dengan Nabi Ibrahim dan memberi kabar gembira berupa kelahiran seorang anak yang sangat penyabar. Selain itu mereka juga menginformasikan bahwa mereka sedang menuju perkampungan kaum Luth, penduduk Sodom dan Amurah. Allah memerintahkan mereka untuk menghancurkan tempat tersebut penduduknya yang berbuat hina dan nista.

Mendengar informasi itu, Nabi Ibrahim mengkhawatirkan keponakannya, Nabi Luth, dia termasuk di antara mereka yang terkena imbas bencana tersebut. Beliau pun berkata kepada malaikat bahwa Luth berada di sana. Para malaikat mengatakan bahwa Allah akan menyelamatkan dia beserta keluarga dan pengikutnya yang beriman dari adzab yang akan menimpak kaum nya yang ingkar, sebagaimana firman Allah, "Ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan. 'Sungguh, kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zhalim. 'Ibrahim berkata, "Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Mereka (para malaikat berkata, kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan did adan para pengikutnya kacuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan ketika para utusan kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para utusan) berkata, 'Janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedihhati. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu kecuali istrimu. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan adzab dari langit kepada penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sungguh tentang itu telah Kami tinggalkan suatu tanda yang nyata bagi orang-orang yang mengerti," (QS. Al-'Ankabut [29]: 31-35).

Daerah Sodom dan Amurah saat ini

Daerah yang tertimpa azab yaitu daerah Sodom dan Amurah, saat ini dikenal dengan "Laut Mati" atau "Danau Luth". Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa sebelum terjadi peristiwa tersebut, Laut Mati belum ada. Laut Mati terbentuk dari gempa yang membalik negeri itu dan posisinya menjadi lebih rendah dari permukaan laut. Para arkeolog telah menemukan sebagian peninggalan dari kota-kota yang dijungkirkan tersebut di pesisir pantai Laut Mati.

Nabi Luth diutus Allah

Luth adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sodom (Sadum). Ia adalah anak keponakan dari Nabi Ibrahim. Ayahnya yang bernama Haran bin Azar adalah saudara sekandung dari Nabi Ibrahim. Ia beriman kepada bapa saudaranya Nabi Ibrahim mendampinginya dalam semua perjalanan dan sewaktu mereka berada di Mesir berusaha bersama dalam bidang perternakan yang berhasil dengan baik. Semula dia menetap bersama pamannya di kota al-Khalil (Hebron). Kemudian, Luth berhijrah ke kota Sodom yang sekarang terletak di wilayah lembah Jordania.

Masyarakat Sodom adalah masyarakat yang rendah paras moralnya dan rusak akhlak. Masyarakat Sodom tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Maksiat dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua-dua jenis kemungkaran ini begitu bermaharajalela di dalam masyarakat sehinggakan ianya merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sodom.

Seorang pendatang yang masuk ke Sodom tidak akan selamat dari diganggu oleh mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Kepada masyarakat yang sudah sedemikian rupa keruntuhan moralnya dan sedemikian paras penyakit sosialnya diutuslah nabi Luth sebagai pesuruh dan Rasul-Nya untuk mengangkat mereka dari lembah kenistaan ,kejahilan dan kesesatan serta membawa mereka alam yang bersih ,bermoral dan berakhlak mulia. Nabi Luth mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan setan. Ia memberi penerangan kepada mereka bahwa Allah telah mencipta mereka dan alam sekitar mereka tidak meredhai amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahwa Allah akan memberi ganjaran setimpal dengan amal kebajikan mereka. Yang berbuat baik dan beramal soleh akan diganjar dengan syurga di akhirat sedang yang melakukan perbuatan mungkar akan di balaskannya dengan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan iaitu melakukan perbuatan homoseksual dan lesbian. Luth menyatakan perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan manusia menjadi dua jenis iaitu lelaki dan wanita. Juga kepada mereka di beri nasihat dan diajukan supaya menghormati hak dan milik masing-masing dengan meninggalkan perbuatan perampasan, perompakan serta pencurian yang selalu mrk lakukan di antara sesama mereka dan terutama kepada pengunjung yang datang ke Sodom. Diterangkan bahwa perbuatan-perbuatan itu akan merugikan mereka sendiri, karena perbuatan itu akan menimbulkan kekacauan dan ketidak amanan di dalam negeri sehingga masing-masing dari mereka tidak merasa aman dan tenteram dalam hidupnya.

Demikianlah Nabi Luth, melaksanakan dakwahnya sesuai dengan tugas risalahnya.Ia tidak henti-henti menggunakan setiap kesempatan dan dalam tiap pertemuan dengan kaumnya secara berkelompok atau secara berseorangan mengajak agak mereka beriman dan percaya kepada Allah dan menyembah-Nya. Diajaknya Luth terhadap kaumnya untuk melakukan amal soleh dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar. Akan tetapi keruntuhan moral dan kerusakan akhlak sudah hidup lama di dalam pergaulan sosial mereka dan pengaruh hawa nafsu dan penyesatan setan sudah begitu kuat menguasai tindak-tanduk mereka, maka dakwah dan ajakkan Nabi Luth yyang dilaksanakan dengan kesabaran dan ketekunan tidak mendapat tempat di dalam hati dan pikiran mereka dan berlalu laksana suasana teriakan di tengah-tengah padang pasir .Telinga-telinga mereka sudah menjadi pekak bagi ajaran-ajaran Nabi Luth sedang hati dan pikiran mereka sudah tersumbat rapat dengan ajaran -ajaran setan dan iblis.

Akhirnya kaum Luth merasa dan kesal hati mendengar dakwah dan nasihat-nasihat Nabi Luth yang tidak putus-putus itu dan minta agar ia menghentikan aksi dakwahnya atau menghadapi pengusir dirinya dari Sodom bersama semua keluarganya. dari pihak Nabi Luth pun sudah tidak ada harapan lagi masyarakat Sodom dapat terangkat dari lembah kesesatan dan keruntuhan moral mereka dan bahwa meneruskan dakwah kepada mereka yang sudah buta-tuli hati dan pikiran serta mensia-siakan masa. Ubat satu-satunya, menurut pikiran Nabi Luth untuk mencegah penyakit akhlak itu yang sudah parah itu menular kepada tetangga-tetangga dekatnya, ialah dengan membasmikan mereka dari atas bumi sebagai pembalasan ke atas terhadap kekerasan kepala mereka juga untuk menjadi ibrah dan pengajaran umat-umat disekelilingnya. beliau memohon kepada Allah agar kepada kaumnya masyarakat Sodom diberi pengajaran berupa azab di dunia sebelum azab yang menanti mereka di akhirat kelak.

Kisah tamu misterius

Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah SWT. Dikirimkanlah kepadanya tiga orang malaikat menyamar sebagai manusia biasa. Mereka adalah malaikat yang bertemu kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita gembira atas kelahiran Nabi Ishak, dan memberitahu kepada mereka bahwa dia adalah utusan Allah dengan tugas menurunkan azab kepada kaum Luth penduduk kota Sodom. Dalam kesempatan pertemuan mana Nabi Ibrahim telah mohon agar penurunan azab keatas kaum Sodom ditunda, kalau-kalau mereka kembali sadar mendengarkan dan mengikuti ajakan Luth serta bertobat dari segala maksiat dan perbuatan mungkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi Ibrahim mohon agar anak saudaranya, Luth diselamatkan dari azab yang akan diturunkan ke atas kaum Sodom permintaan mana oleh para malaikat itu diterima dan dijamin bahwa Luth dan keluarganya tidak akan terkena azab.

Para malaikat itu sampai di Sodom dengan menyamar sebagai lelaki muda yang berparas tampan dan badan yang berotot, tegap dan sasa tubuhnya. Dalam perjalanan mereka hendak memasuki kota, mereka berselisih dengan seorang gadis yang cantik dan ayu sedang mengambil dari sebuah perigi. Lelaki muda (malaikat) bertanya kepada si gadis kalau-kalau mereka diterima di rumah sebagai tamu. Si gadis tidak berani memberi keputusan sebelum ia beruding terlebih dahulu dengan keluarganya. Maka ditngglkanlah para lelaki muda itu oleh lalu pulang ke rumah cepat-cepat untuk memberitahu ayahnya (Luth).

Mendengar kabar berita anak perempuannya, Nabi Luth menjadi bingung, jawaban apa yang harus ia berikan kepada para pendatang yang ingin bertamu ke rumahnya untuk beberapa waktu, namun menerima tamu yang berparas tampan dan kacak akan mengundang risiko gangguan kepadanya dan kepada tamu dari kaumnya yang tergila-gila untuk melakukan hubungan seks sejenis dengan anak muda yang mempunyai tubuh bagus dan paras wajah elok. Sedang kalau hal yang demikian itu terjadi ia sebagai tuan rumah harus bertanggungjawab terhadap keselamatan tamunya, padahal ia merasa bahwa ia tidak akan berdaya menghadapi kaumnya yang bengis-bengis dan haus maksiat itu.

Nabi Luth memutuskan untuk menerima lelaki-lelaki muda itu sebagai tetamu di rumahnya. Luth hanya pasrah kepada Allah dan berlindung sekiranya terdapat segala rintangan yang akan datang. Lalu pergilah ia sendiri menjemput tamu yang sedang menanti di pinggir kota dan diajaklah mereka bersama-sama ke rumah. Ketika itu, kota Sodom sudah diliputi kegelapan dan manusianya sudah nyenyak tidur di rumah masing-masing.

Nabi Luth telah pun berpesan kepada isteri dan kedua puterinya agar merahasiakan kedatangan anak-anak lelaki muda itu. Jangan sampai terdengar dan diketahui oleh kaumnya. Namun, kedegilan isteri Nabi Luth, yang juga sehaluan dan sependirian dengan penduduk Sodom, telah membocorkan berita kedatangan tetamu Luth kepada mereka. Berita kedatangan tamu Luth tersebar karena isteri Nabi Luth. Datanglah beramai-ramai lelak-lelaki Sodom, yang buta seks ini, ke rumah Nabi Luth, berhajat untuk memuaskan nafsu seksual mereka, setelah lama tidak mendapat anak muda. Berteriaklah mereka memanggil Luth untuk lepas anak-anak muda itu, agar diberi kepada mereka untuk memuaskan nafsu.

Dengar teriakan mereka, Nabi Luth tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar mereka kembali ke rumah masing-masing dan jangan menggunggu tamu yang datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan. Mereka diberi nasihat agar meninggalkan perbuatan kebiasaan mereka yang keji itu. Perbuatan mereka yang bertentangan dengan fitrah manusia dan kodrat alam di mana Allah telah menciptakan manusia berpasangan antara lelaki dengan perempuan untuk menjaga kelangsungan perkembangan umat manusia sebagai mahluk yang termulia di atas bumi. Nabi Luth berseru agar mereka kembali kepada isteri-isteri mereka dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar yang tidak senonoh, sebelum mereka dilanda azab dan seksaan Allah.

Seruan dan nasihat-nasihat Nabi Luth tidak dihiraukan dan dipedulikan, mereka bahkan mendesak akan menolak pintu rumahnya dengan paksa dan kekerasan jika pintu tidak di buka dengan sukarela. Merasa dirinya sudah tidak berdaya untuk menahan arus orang-orang lelaki kaumnya itu yang akan memaksakan kehendaknya dengan kekerasan berkatalah Nabi Luth secara terus terang kepada para tamunya: "Sesungguhnya aku tidak berdaya lagi menahan orang-orang itu menyerbu ke dalam. Aku tidak memiliki senjata dan kekuatan fisik yang dapat menolak kekerasan mereka, tidak pula mempunyai keluarga atau sanak saudara yang disegani mereka yang dapat aku mintai pertolongannya, maka aku merasa sangat kecewa, bahwa sebagai tuan rumah aku tidak dapat menghalaukan gangguan terhadap tamu di rumahku sendiri. Mendengar keluh-resah Nabi Luth, lantas anak-anak muda itu memberitahu hal yang sebenar, mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai manusia yang diutus oleh Allah untuk menurunkan azab dan siksa atas rakyatnya karena segala kemungkaran dan kemaksiat yang keji dan kotor.

Malaikat-malaikat itu menyuruh Nabi Luth membuka pintu rumahnya seluas mungkin agar dapat memberi kesempatan bagi orang-orang yang hauskan seks dengan lelaki itu masuk. Namun malangnya apabila pintu dibuka dan para penyerbu memijakkan kaki untuk masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka dan tidak dapat melihat sesuatu. Malaikat-malaikat tadi telah membutakan mata mereka. Lalu, diusap-usap dan digosok-gosok mata mereka, ternyata mereka sudah menjadi buta.

Sementara para penyerbu rumah Nabi Luth berada dalam keadaan kacau balau berbentur antara satu dengan lain berteriak-teriak bertanya-tanya gerangan apa yang menjadikan mereka buta dengan mendadak berseru kepada Nabi Luth agar segera meninggalkan perkampungan itu bersama keluarganya, karena masanya telah tiba bagi azab Allah yang akan ditimpakan. Para malaikat berpesan kepada Nabi Luth dan keluarganya agar perjalanan ke luar kota jangan seorang pun dari mereka menoleh ke belakang.

Nabi Luth keluar dari rumahnya sehabis tengah malam, bersama keluarganya terdiri dari seorang isteri dan dua puterinya berjalan cepat menuju keluar kota, tidak menoleh ke kanan mahupun ke kiri sesuai dengan petunjuk para malaikat yang menjadi tamunya. Akan tetapi si isteri yang menjadi musuh dalam selimut bagi Nabi Luth tidak tergamak meninggalkan kaumnya. Ia berada di belakang rombongan Nabi Luth berjalan perlahan-lahan tidak secepat langkah suaminya dan tidak henti-henti menoleh ke belakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaumnya, seakan-akan meragukan kebenaran ancaman para malaikat yang telah didengarnya sendiri. Dan begitu langkah Nabi Luth berserta kedua puterinya melewati batas kota Sodom, sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah kaki rakyat Sodom, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafiq itu. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu sijjil yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sodom berserta semua penghuninya. Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah SWT di kota Sodom, dan hancurlah kota tersebut yang berada di laluan manusia yang lalu-lalang. Namun, masih ditinggalkan kesan-kesan kehancuran kota tersebut oleh Allah SWT, sebagai peringatan kaum yang kemudian yang melalui di jalan tersebut. Demikianlah kebesaran dan ayat Allah yang diturunkan untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi hamba-hamba-Nya yang mendatang

KISAH NABI IBRAHIM A.S

 KISAH NABI IBRAHIM A.S
 
Nama: Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒Ibrahim as
Usia: 175 tahun
Periode sejarah: 1997 - 1822 SM
Tempat diutus (lokasi): Ur di daerah selatan Babylon (Irak)
Jumlah keturunannya (anak): 13 anak
Tempat wafat: Al-Khalid (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya: Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 69 kali

Ibrahim (tahun 1997 SM s/d 1822 SM) merupakan nabi dalam agama Samawi, dan sering disebut sebagai "bapak para nabi". Ia mendapat gelar Khalil Allah atau Sahabat Allah. Selain itu beliau bersama anaknya, Nabi Ismail terkenal sebagai pengasas Kaabah.
Ibrahim, Bapak Para Nabi

Nabi Ibrahim al-Khalil dilahirkan di Ur, daerah bagian selatan Irak. Beliau lahir di kalangan masyarakat penyembah berhala. Mereka membuat patung pada zaman Raja Namrud bin Kan'an. Ayahnya, Azar adalah seorang yang cukup pandai dalam membuat berhala yang menyesatkan ini. Dia lalu memerintahkan Ibrahim untuk menjualnya ke pasar. Ibrahim pun membawanya dan berteriak di pasar, "Siapa yang mau membeli benda berbahaya dan tidak bermanfaat ini?!"

Ketika Ibrahim beranjak dewasa, beliau mengingkari perlakuan kaumnya yang menyembah berhala-berhala itu. Hal ini terekam dalan firman Allah, "Sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia," (QS. Al-Anbiya' [21]: 51).

Dalam benaknya, terlintas beragam pertanyaan dan penalaran tentang kaumnya. Mereka hidup dalam kelalaian dan kesesatan karena keyakinan yang rusak terhadap berhala, patung, dan bintang. Allah berfirman, "(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, 'Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata," (QS. Al-An'am [6]: 74).

Setelah Ibrahim bersenjatakan kebenaran dan logika ketika Allah menjadikan beberapa sebab itu untuknya, pertengkaran pun terjadi antara Ibrahim dan orang-orang kafir serta orang-orang yang sesat.

Beliau pun mengingatkan ayahnya dengan sangat bijaksana dan penuh nasihat. Akan tetapi, sang ayah bersikeras berada dalam kesesatan dan kebodohannya. Nabi Ibrahim tetap mengajal kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan menghancurkan berhala.

Berita tentang beliau lalu tersebar ke seluruh penduduk Babylon hingga Raja Namrud mengajaknya berdebat. Mereka berdua pun bertemu. Nabi Ibrahim melancarkan berbagai argumen dan dalil-dalil sehingga dapat mematahkan semangat lawannya. Ini tercatat dalam firman Allah, "Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim," (QS. Al-Baqarah [2]: 258).

Pada suatu hari, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang ada dan meninggalkan salah satunya (yang paling besar) karena ada tujuan tertentu. Ketika orang-orang berdatangan ke tempat tersebut, mereka menemukan semuanya hancur berantakan, mereka pun marah, dendam, dan berjanji akan memberikan hukuman yang sangat berat kepada orang yang telah melakukannya. Setelah berusaha mencari pelakunya, mereka mengetahui bahwa Ibrahim bin Azar yang melakukannya. Setelah itu, mereka pun menyidangnya. Di dalam firman Allah disebutkan, "Mereka bertanya, 'Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?' Dia (Ibrahim) menjawab, 'Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara. 'Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, 'Sesungguhnya kalianlah yang menzalimi (diri sendiri)," (QS. Al-Anbiya' [21]: 62-64).

Semuanya terdiam setelah mendapat tamparan keras dari hujjah Nabi Ibrahim tersebut. Bagi mereka, tidak ada cara lain kecuali membakarnya setelah beliau membuat mereka berada dalam kebuntuan yang paling buruk.

"Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat. 'Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api, jadilah kami dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim. 'Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi," (QS. Al-Anbiya' [21]: 68-70).

Disinilah, Ibrahim dengan kecemerlangan pikirannya memandang perlu untuk berhijrah membawa kemurnian agamanya. Beliaupun berhijrah bersama istrinya (Sarah) dan keponakannya (Luth) ke tempat yang sangat diberkahi Allah untuk seluruh alam. Allah berfirman, "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana," (QS. Al-Ankabut [29]:26).

Adzab yang menimpa Penduduk Babylon setelah Nabi Ibrahim berhijrah

Dr. Jamal Abdul Hadi menyebutkan dalam kitabnya, Jazirah al-'Arab bahwa naskah-naskah Sumeria kuno telah diungkap melalui gubahan seorang penyair Sumeria. Naskah tersebut menceritakan tentang berakhirnya kota Ur (Babylon) yang diperintah Raja Namrud pada pertengahan abad ke-20 SM, yaitu saat kepergian Nabi Ibrahim beserta keponakannya Luth. Ur, kota tempat kelahiran Nabi Ibrahim itu mengalami dua kekalahan telak dari bangsa Ailam dan Amorite. Allah berfirman, "Demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan," (QS. Al-An'am [6]: 129).

Penyair itu mengungkapkan, "Kuda jantan terpisah dari habitatnya. Kawanannya pun tercerai berai bersama angin." Dia juga menyebutkan sejumlah nama-nama kota besar Sumeria, lalu mengisahkan akhir kematian kota tersebut. Kemudian, dia menjelaskan ketetapan langit tentang kehancuran kota itu, pertumpahan darah penduduknya, isak yang berkepanjangan, bangkai manusia yang berserakan karena tertembus tombak atau hantaman peluru batu. Demikianlah yang terjadi, hingga sengatan matahari melunturkan lemak-lemak mereka. Mereka yang selamat menjadi hina dan kelaparan. Sang ibu kehilangan anaknya. Sang ayah meninggalkan darah dagingnya. Para istri berpisah dari suaminya. Mahabenar Allah yang berfirman, "Betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Rabb mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami adzab mereka dengan adzab yang mengerikan (di akhirat). Sehingga mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan adzab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepada kalian," (QS.Ath-Thalaq [65]: 8-10).

Pembangunan Ka'bah

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa Nabi Adam adalah orang pertama yang membangun Baitul Atiq. Sementara itu, Nabi Ibrahim yang membangun kembali Baitul Atiq dengan mengangkat fondasinya bersama Ismail setelah peristiwa banjir besar.

Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka yang masih menyusu, Ismail, berjalan ke suatu tempat yang diperintahkan Allah. Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang tandus. Hal itu dilakukan setelah beliau menunaikan kewajiban dan mensyukuri semua nikmat Allah. Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) di Palestina dengan meninggalkan Hajar dan anaknya di lembah tersebut. Dengan bertawakal, berharap Allah melindungi anak dan istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang tertuang dalam firman Allah, "Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur," (QS. Ibrahim [14]: 37).

Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya berada hingga mereka sangat kehausan. Hajar segera mencari air dari sumber yang ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saat dia kembali menemui Ismail, dia melihat percikan air dari bawah tungkai kaki anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara Jibril.

Abu Syuhbah berkata dalam bukunya, "Jibril turun menyerupai seekor burung. Dia lalu mengepakkan sayapnya ke bumi, ada juga yang berpendapat dengan tungkainya, maka keluarlah air Zamzam. Karena sangat senangnya, Hajar lalu mengumpulkan tanah untuk membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami zami ('Berkumpullah, berkumpullah').' Dia dan bayinya pun lantas minum hingga dahaga mereka hilang dan tidak merasakan haus lagi setelah itu. Pada saat demikian, Hajar mendengar suara yang berkata, 'Janganlah kamu takut terlantar. Sebab, di sini akan ada Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya.'"

Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Jurhum yang merantau dari Yaman. Mereka tinggal di dekat tempat yang kemudian menjadi kota Mekah dan minta izin kepada Hajar agar diperbolehkan tinggal di sana. Hajar senang dan tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang itu. Mereka bermukim di sana dan membangun tempat tinggal. Ketika Ismail beranjak dewasa, dia mampu berbahasa Arab sehingga menjadi leluhur orang-orang Arab Musta'rabah (pendatang). Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Syuhbah di dalam kitabnya.

Al-Azraqi berkata dalam Tarikh Makkah, "Setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka'bah dulu telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau oleh aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada tempat yang amat bernilai, tanpa mengetahui pasti lokasinya. Dari seluruh penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan. Manusia pun selalu mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka'bah kembali. Sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi ke generasi lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi."

Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi keluarganya. Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Ismail pun memenuhi perintah itu, Namun, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan yang besar seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! ' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. 'Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah), lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau membenarkan mimpi itu. 'Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Selamat sejahtera bagi Ibrahim. 'Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," (QS. As-Shaffat [37]: 102-111).

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat itu, Ibrahim melihat Ismail tengah meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan. Nabi Ibrahim berkata, "Allah memerintahlan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam urusan agung ini."

Nabi Ibrahim pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan Ismail menyodorkan batu untuknya. Ibrahim berkata pada Ismail, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan meletakkannya di salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia."Jibril lalu memberi tahu Ismail tentang Hajar Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari surga. Ismail pun menyodorkannya dan Ibrahim meletakan pada tempatnya. Selama membangun, mereka berdua senantias berdoa, "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,"(QS. Al-Baqarah [2]: 127).

Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim tidak mampu lagi mengangkat bebatuan. Dia lantas berdiri di atas sebuah batu, yang kemudian disebut maqam Ibrahim, hingga sempurnanya pembangunan Baitullah. Allah kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat manusia agar melaksanakan ibadah haji. Allah berfirman, "Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj [22]: 27-29).

Pembangunan Masjidil Aqsha

Palestina merupakan daerah Arab sejak lebih dari 5000 tahun lalu ketika bangsa-bangsa Semit bermigrasi ke wilayah tersebut. Bangsa Kan'an bermukim di sana dan kemudian menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama mendiami daerah Syam selat (Palestina dan Yordania Timur) dan mereka disebut bangsa Kan'an). Sementara itu, kelompok kedua tinggal di daerah pantai Syam di antara Gunung Amanos dan Gunung Karmel. Mereka lalu disebut sebagai bangsa Kan'an Laut atau bangsa Fenisia.

Bangsa Kan'an memiliki kerajaan-kerajaan yang unggul dalam bidang pertanian dan perdagangan. Pada saat mereka yang berdomisili di wilayah Palestina ini mulai membangun peradaban sejarah mereka di sana, Nabi Ibrahim dan keponakannya, Nabi Luth berhijrah ke sana, seperti yang telah kami sebutkan tentang dakwah beliau pada bab sebelumnya. Hal ini juga sesuai dengan firman Allah, "Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam," (QS. Al-Anbiya' [21]: 71).

Masjidil Adsha yang diklaim Zionis Yahudi sebagai tanah dan sejarah mereka secara dusta adalah nama tempat suci umat Islam di bumi Palestina. Masjidil Aqsha adalah masjid kuno yang telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim hingga masa Nabi Muhammad. Di dalam as-Shahihain disebutkan satu hadits riwayat Abu Dzar al-Ghifari yang pernah bertanya, "wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, "Masjidil Haram." Dia bertanya lagi, "Lalu?" Beliau menjawab, "Masjidil Aqsha." "Berapa lama jarak (pembangunan) keduanya?" tanya Abu Dzar lagi. Beliau menjawab, "Empat puluh tahun."

Menurut para cendekiawan, Masjidi Aqsha lebih luas cakupannya daripada sekadar bangunan yang memiliki nama tersebut. Menurut syariat, semua bangunan yang berada di dalam pagar besar yang memiliki beberapa pintu itu termasuk masjid. Ke lokasi masjid inilah disunahkan bepergian dan di sanalah digandakan pahala shalat. Masjid ash-Shakhrah (Masjid Kubah Batu [Dome of The Rock]) juga termasuk di dalamnya. Batu tersebut memiliki sejarah leluhur. Orang pertama yang shalat di sana adalah Nabi Adam. Nabi Ibrahim menjadikan tempat itu sebagai tempat ibadah dan tempat sembelihan. Allah menyifati Nabi Ibrahim ini di dalam firman-Nya, "Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik," (QS. Ali 'Imran [3]: 67).

Di tempat itu pula, Nabi Ya'qub membangun masjidnya setelah melihat tiang dari cahaya di atasnya. Di sanalah Nabi Yusya' mendirikan kubah zaman atau kemah tempat berkumpul yang dibuat oleh Nabi Musa di bumi Tih (Sinai) sebagai tempat menerima wahyu. Di sana pula Nabi Daud membangun mihrabnya dan Nabi Sulaiman membangun masjid besar yang dinisbahkan pada namanya sebagai tempat beribadah dan mengesakan Allah.

Batu itulah yang menjadi tempat berpijak Nabi Muhammad ketika beliau diperjalankan pada malam mi'raj. Orang pertama yang membangun masjid di atasnya pada periode keislaman adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan al-Umawi, Ibnu Taimiyah berkata, "Masjidil Aqsha telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim dan direnovasi megah oleh Nabi Sulaiman."

Kisah Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim adalah putera Aazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan Babilonia yang saat itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama Namrudz bin Kan'aan. Sebelum itu tempat kelahirannya berada dalam keadaan kucar-kacir. Ini adalah karena Raja Namrud mendapat petanda bahwa seorang bayi akan dilahirkan disana dan bayi ini akan tumbuh dan merampas takhtanya. Antara sifat insan yang akan menentangnya ini ialah dia akan membawa agama yang mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu berhala. Insan ini juga akan menjadi penyebab Raja Namrud mati dengan cara yang dahsyat. Oleh itu Raja Namrud telah mengarahkan semua bayi yang dilahirkan di tempat ini dibunuh, manakala golongan lelaki dan wanita pula telah dipisahkan selama setahun.

Walaupun berada dalam keadaan cemas, kehendak Allah tetap terjadi. Isteri Aazar telah mengandung namun tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti telah tiba waktunya untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Raja Namrud yang zalim pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu nabi Ibrahim telah bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah gua yang berhampiran. Selepas itu, dia memasuki batu-batu kecil dalam mulut bayinya itu dan meninggalkannya keseorangan. Seminggu kemudian, dia bersama suaminya telah pulang ke gua tersebut dan terkejut melihat nabi Ibrahim a.s masih hidup. Selama seminggu, bayi itu menghisap celah jarinya yang mengandungi susu dan makanan lain yang berkhasiat. Semasa berusia 15 bulan tubuh Nabi Ibrahim telah membesar dengan cepatnya seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua ibubapanya berani membawanya pulang kerumah mereka.

Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang sebenarnya

Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme yaitu menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil nabi Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia berusaha mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.

Dalam al-Quran Surah al-Anaam (ayat 76-78) menceritakan tentang pencariannya dengan kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat". Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: "Inikah Tuhanku? Ini lebih besar". Setelah matahari terbenam, dia berkata pula: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)". Inilah daya logika yang dianugerahi kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang sebenarnya.
Melihat tanda Kekuasaan Allah

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "

Nabi Ibrahim yang sudah bertekad ingin memerangi kesyirikan dan penyembahan berhala yang berlaku di dalam kaumnya ingin mempertebal iman dan keyakinannya lebih dulu, untuk menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin mangganggu pikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Ia memohon kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab permohonannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?." Nabi Ibrahim menjawab:"Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala-ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan hati dan agar semakin tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung, lalu setelah memperhatikan dan meneliti bagian-bagian tubuh burung itu, ia memotongnya menjadi berkeping-keping, mencampur-baurkannya, dan kemudian tubuh burung yang sudah hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di empat puncak bukit yang berbeda dan berjauhan. Setelah dikerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah itu, diperintahkan-Nya Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak tubuhnya dan terpisah jauh setiap bagian tubuhnya itu.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh dan bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya. Lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah keinginan Nabi Ibrahim untuk menenteramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya, dan hanya kata "Kun Fayakun", maka terjadilah apa yang Dikehendaki-Nya.

Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya

Aazar, ayah Nabi Ibrahim sama sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala, ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan dariya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki namun seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan coba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu, tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkata: "Wahai ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena gagal mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kafir.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyadarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anuti dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa apabila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan nenek moyang mereka lakukan sejak turun-temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun telah Nabi Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahwa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babilonia bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan." kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa kamu tidak makan makanan yang lezat yang disajikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu." Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:"Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrudz yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud:"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Raja Namrudpun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berpikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Raja Namrud mencetuskan keputusan bahwa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."

Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:"Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan kepercayaan kepada Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud sendiri iaitu Puteri Razia mula mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. Lalu Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahwa tuhan nabi Ibrahim a.s. adalah tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan beliau yang mengarahkan tentara untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun meluru ke arah api yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku". Puteri Razia pun turut terselamat dari terbakar dan dalam api yang membara itu kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan durhaka puterinya menjadikan hati Raja Namrud semakin membara. Sebaik sahaja puteri Razia keluar dari api tersebut beliau serta tenteranya telah mengejarnya kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta adik tirinya Sarah, bapanya Azaar serta anak saudaranya Nabi Luth untuk melarikan diri. Raja Namrud dan tenteranya puas mencari Puteri Razia tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati bahwa Nabi Ibrahim turut terlepas. Setelah peristiwa ini, Raja Namrud kian gelisah karena rakyatnya mula hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk membunuh Tuhan nabi Ibrahim.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.
Kisah Nabi Ibrahim di dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, nama Ibrahin as, disebutkan 69 kali yang tersebar di 25 surat, yaitu pada QS. 2:124, 2:125, 2:126, 2:130, 2:131, 2:132, 2:135, 2:136, 2:140, 2:258, 2:260, 3:65, 3:67, 3:68, 3:84, 3:95, 3:97, 4:54, 4:125, 4:163, 6:74, 6:75, 6:76, 6:77, 6:78, 6:79, 6:80, 6:83, 6:161, 9:70, 9:114, 11:69, 11:70, 11:74, 11:75, 11:76, 12:6, 12:38, 14:35, 15:51, 16:120, 16:123, 19:41, 19:46, 19:58, 21:51, 21:60, 21:62, 21:69, 22:26, 22:43, 22:78, 26:69, 29:16, 29:31, 33:7, 37:83, 37:104, 37:109, 43:26, 51:24, 53:37, 57:26, 60:4, 78:19.

indonesian-islamic.blogspot.com Copyright © Designed by Islamic Wallpers SEO by Islamic Blogger Template